Chamomile: Ketika Sebuah Cerita Datang di Waktu yang Tepat
Chamomile: Ketika Sebuah Cerita Datang di Waktu yang Tepat
Ada kalanya kita membaca buku bukan karena sedang mencari cerita yang luar biasa rumit, tapi karena kita sedang membutuhkan teman.
Teman yang tidak banyak bertanya, tidak menghakimi, dan cukup menemani kita sampai halaman terakhir.
Buatku, Chamomile karya Luluk HF punya kesan seperti itu—hangat, lembut, tapi tetap menyimpan cerita yang bikin penasaran. Dari sampulnya saja, buku ini sudah berhasil mencuri perhatian.
Warna biru turquoise yang dipadukan dengan bunga chamomile putih membuat tampilannya terasa tenang dan manis.
Apalagi judul “Chamomile” ditulis dengan warna keemasan.
Sederhana, tetapi punya daya tarik yang bikin ingin segera membuka halaman pertama. 🌼💙 Yang menarik, membaca Chamomile terasa seperti diajak masuk ke kehidupan para tokohnya secara perlahan.
Bukan sekadar tentang apa yang mereka lakukan, tetapi juga tentang apa yang mereka rasakan, sembunyikan, dan pikirkan.
Ada percakapan-percakapan yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan beberapa situasinya bisa bikin kita spontan berpikir, “Duh, kalau aku jadi dia, mungkin aku juga bakal bingung.” 😭
Salah satu bagian yang menarik perhatian ada di Bab 29: “Tomorrow”. Dari halaman yang terlihat, cerita mulai membawa pembaca pada situasi yang cukup menegangkan secara emosional.
Ada Alan dan Vanya, ada percakapan yang menyimpan banyak hal, juga pertanyaan-pertanyaan yang rasanya belum semuanya mendapatkan jawaban.
Dan justru di sinilah serunya. Kadang dalam sebuah hubungan, yang paling melelahkan bukan pertengkarannya, tetapi ketidakjelasan. Mau bertanya takut jawabannya menyakitkan.
Mau diam malah semakin penasaran. Mau pergi, tetapi masih ada sesuatu yang membuat kita bertahan. Relate? Banget. 🥲
Hal yang paling aku suka dari pengalaman membaca buku seperti ini adalah bagaimana cerita sederhana bisa memunculkan perasaan yang ternyata selama ini kita kenal.
Tentang menunggu, merasa tidak nyaman, ingin tahu kebenaran, menjaga perasaan orang lain, sampai akhirnya harus berani menghadapi kenyataan.
Ditambah lagi, bookmark bernuansa turquoise dengan ilustrasi bunga chamomile yang terlihat di dalam buku membuat pengalaman membacanya semakin estetik.
Rasanya seperti punya “teman kecil” yang ikut menemani perjalanan cerita. Cocok banget buat dibaca santai sambil ngopi, menikmati sore, atau sekadar rebahan ketika kepala sedang penuh.
Kesimpulanku: Chamomile bukan cuma menarik dari tampilannya, tetapi juga punya cerita yang mengajak kita ikut merasakan dinamika para tokohnya.
Ada bagian yang bikin penasaran, ada yang bikin gemas, dan mungkin ada juga yang diam-diam bikin kita berkaca pada pengalaman sendiri.
Karena terkadang, kita membaca cerita orang lain hanya untuk sadar bahwa perasaan manusia ternyata sesederhana itu: ingin dimengerti, ingin dipercaya, dan ingin tahu apakah “tomorrow” masih menyimpan harapan. 🌼
Kalau kamu suka cerita dengan nuansa emosional, hubungan antartokoh yang bikin penasaran, dan momen-momen yang terasa dekat dengan kehidupan nyata, Chamomile layak masuk reading list!
#ReviewMakchy #Chamomile
Komentar
Posting Komentar