#ReviewMakchy — Dompet Ayah Sepatu Ibu: Tentang Cinta yang Jarang Diucapkan

 #ReviewMakchy — Dompet Ayah Sepatu Ibu: Tentang Cinta yang Jarang Diucapkan

Judulnya sederhana. Bahkan terdengar unik. Tapi justru dari judul itulah saya langsung penasaran. Kenapa dompet ayah? Kenapa sepatu ibu? Dua benda yang setiap hari ada di sekitar kita, tapi sering luput dari perhatian.

Dan setelah membaca buku ini, saya merasa bahwa kadang cinta memang tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata manis. 

Kadang cinta hadir dalam dompet yang terus diisi meski pemiliknya jarang membeli sesuatu untuk dirinya sendiri. Kadang cinta hadir dalam sepatu yang dipakai ibu ke mana-mana demi mengurus keluarga.

Cerita yang Dekat dengan Kehidupan
Salah satu hal yang saya suka dari buku ini adalah ceritanya terasa dekat. Sangat dekat.

Tidak ada tokoh yang terasa terlalu sempurna. Tidak ada kehidupan yang terlalu mewah atau sulit dibayangkan. Justru karena kesederhanaannya, ceritanya jadi lebih mudah masuk ke hati.

Saat membaca beberapa bagian, saya seperti melihat potongan kehidupan sehari-hari. Tentang orang tua yang bekerja tanpa banyak mengeluh. Tentang anak yang kadang baru sadar besarnya pengorbanan orang tua ketika dirinya sudah dewasa. Relate banget.

Karena kalau dipikir-pikir, banyak dari kita tumbuh dengan menganggap semua yang diberikan orang tua adalah hal yang biasa. Makan tersedia. Sekolah berjalan. Kebutuhan terpenuhi. Padahal di balik semua itu ada banyak hal yang tidak pernah mereka ceritakan.

Tentang Ayah yang Sering Terlihat Kuat
Ayah sering digambarkan sebagai sosok yang kuat. Tidak banyak bicara. Tidak mudah menangis. Tapi buku ini mengingatkan bahwa di balik sosok kuat itu ada banyak hal yang dipendam sendiri.

Dompet ayah menjadi simbol perjuangan. Simbol tanggung jawab. Simbol bagaimana seseorang terus berusaha memastikan keluarganya baik-baik saja. Kadang kita melihat ayah pulang kerja lalu duduk diam. Kita mengira tidak ada apa-apa.

Padahal mungkin pikirannya penuh.
Tentang tagihan.
Tentang kebutuhan anak.
Tentang masa depan keluarga.
Dan sering kali semua itu disimpan sendiri.

Bagian ini membuat saya beberapa kali berhenti membaca dan mengingat ayah saya sendiri.

Tentang Ibu yang Selalu Ada
Kalau dompet menjadi simbol ayah, maka sepatu menjadi simbol ibu. Ibu adalah orang yang selalu bergerak. Dari dapur ke ruang keluarga. Dari pasar ke rumah.

Dari mengurus anak sampai memastikan semua kebutuhan keluarga terpenuhi. Kadang kita hanya melihat hasilnya tanpa melihat proses panjang di belakangnya.

Sepatu ibu dalam buku ini terasa seperti simbol perjalanan panjang yang tidak pernah benar-benar berhenti. Dan yang membuat saya tersentuh adalah bagaimana pengorbanan itu sering dilakukan tanpa berharap balasan apa pun.

Just because she loves her family.
Sesederhana itu.

Buku yang Mengingatkan untuk Bersyukur
Hal yang paling saya rasakan setelah membaca buku ini adalah rasa syukur. Bukan syukur karena memiliki kehidupan yang sempurna.

Tapi syukur karena masih memiliki orang-orang yang mencintai kita dengan caranya masing-masing. Sering kali kita terlalu sibuk mengejar banyak hal sampai lupa menghargai hal-hal kecil.

Telepon dari orang tua. Pesan singkat menanyakan kabar.
Makanan yang disiapkan di rumah. Atau sekadar pertanyaan sederhana, "Sudah makan belum?" Buku ini seperti pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari sesuatu yang besar. Kadang justru datang dari hal-hal sederhana yang selama ini kita anggap biasa.

Gaya Menulis yang Ringan
Satu hal yang membuat buku ini nyaman dibaca adalah gaya penulisannya. Bahasanya ringan, mengalir, dan mudah dipahami. Tidak terasa menggurui. Tidak terasa terlalu berat.

Namun tetap berhasil menyampaikan emosi dengan baik.
Ada beberapa bagian yang membuat saya tersenyum, ada juga yang membuat hati terasa hangat.

Buat yang mungkin sedang mencari bacaan ringan tetapi punya makna mendalam, buku ini bisa jadi pilihan yang tepat. Tidak perlu terburu-buru membacanya.
Nikmati saja setiap halamannya. Karena sering kali pesan terbaik datang dari kalimat-kalimat sederhana.

Setelah menutup buku ini, ada satu hal yang terus teringat di kepala saya. Bahwa cinta tidak selalu harus diucapkan.
Kadang cinta hadir dalam bentuk kerja keras.

Dalam bentuk perhatian kecil. Dalam bentuk pengorbanan yang bahkan tidak pernah diceritakan.Dan mungkin selama ini kita terlalu fokus pada apa yang belum kita miliki sampai lupa melihat semua hal yang sudah diberikan orang-orang terdekat kepada kita.

Buku ini juga mengingatkan saya untuk lebih sering mengucapkan terima kasih kepada orang tua. Karena waktu terus berjalan. Dan tidak ada yang benar-benar tahu berapa banyak kesempatan yang masih kita miliki untuk menunjukkan rasa sayang kepada mereka.

Dompet Ayah Sepatu Ibu bukan hanya tentang ayah dan ibu. Buku ini tentang keluarga, pengorbanan, kasih sayang, dan hal-hal sederhana yang sering luput dari perhatian.


Buku yang membuat saya tersenyum, merenung, dan diam beberapa saat setelah halaman terakhir selesai dibaca. Kalau kamu sedang mencari buku yang hangat, ringan, tetapi penuh makna, buku ini layak masuk daftar bacaanmu.

Karena pada akhirnya, kita semua mungkin pernah menjadi anak yang terlalu sibuk memahami dunia, sampai lupa melihat betapa besar cinta yang sudah diberikan dari rumah.

Dan buku ini mengingatkan itu dengan cara yang sederhana, manis, dan sangat mengena.

Rate: 4.8/5 
"Kadang yang paling berharga bukan yang paling mahal. Tapi yang selalu ada, bahkan saat kita tidak menyadarinya."

#ReviewMakchy
#MakchyReads 
#EchyTime
#ReadingTime

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SGM Eksplor Luncurkan Gerakan #AyoTunjukTangan untuk Indonesia Maju

Ramsyah Al Akhab: Menyalakan Cahaya Literasi dari Bangka Belitung

Temen Kondangan, Move On Di Kondangan ?