#ReviewMakchy Kisah Dilan Yang Bikin Nostalgia

Hai, balik lagi di Ruang Makchy🤍

Kali ini aku mau ngobrol santai soal salah satu novel yang sempat bikin banyak orang baper, senyum-senyum sendiri, sampai susah move on dari karakter utamanya 😄

Yap, apalagi kalau bukan Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990 dan lanjutannya Dilan Bagian Kedua: Dia adalah Dilanku Tahun 1991 yang akhirnya membawa kita ke cerita Milea: Suara dari Dilan dan kisah Dilan sebagai mahasiswa di ITB tahun 1997.

Buat yang suka cerita remaja dengan nuansa cinta, persahabatan, dan perjalanan hidup yang relate banget sama masa muda, buku ini cocok jadi teman santai di waktu luang.

Bahasanya ringan, tidak terlalu berat, tapi tetap punya makna yang dalam. Nah, di artikel kali ini aku mau sharing review versi simple dan santai tentang kisah Dilan saat berada di dunia kampus ITB tahun 1997.

Tentang Buku Dilan ITB 1997

Kalau sebelumnya kita mengenal Dilan sebagai anak SMA yang unik, romantis, dan sering bikin Milea gemas, di cerita ini kita diajak melihat sisi Dilan yang lebih dewasa. Setting waktunya sudah berbeda. Dilan bukan lagi anak sekolah, tapi mahasiswa di Institut Teknologi Bandung atau yang biasa dikenal dengan ITB.

Nuansa cerita terasa lebih matang dibanding seri sebelumnya. Ada banyak hal tentang kehidupan kampus, idealisme anak muda, persahabatan, sampai pergolakan hidup yang mulai dirasakan saat memasuki usia dewasa.

Meski begitu, karakter khas Dilan tetap terasa. Cara bicaranya masih santai, kadang nyeleneh, tapi justru itu yang bikin pembaca merasa dekat dengan tokohnya.

Alur Cerita yang Ringan tapi Bikin Penasaran

Salah satu hal yang aku suka dari buku ini adalah alurnya yang ringan dan mudah diikuti. Tidak terlalu rumit, jadi enak dibaca kapan saja. Bahkan buat yang jarang baca novel sekalipun, buku ini tetap nyaman dinikmati.

Cerita berjalan seperti kita sedang mendengar seseorang bercerita tentang kehidupannya sehari-hari. Ada momen lucu, manis, sedih, dan juga refleksi kehidupan yang diam-diam bikin pembaca ikut mikir.

Pidi Baiq memang punya gaya menulis yang khas. Kalimat-kalimatnya sederhana, tapi terasa hangat dan mengena. Kadang ada bagian yang bikin ketawa sendiri, lalu tiba-tiba berubah jadi haru.

Karakter Dilan yang Selalu Punya Daya Tarik

Jujur saja, salah satu alasan kenapa banyak orang suka cerita ini tentu karena karakter Dilan 😄

Dilan bukan tipe cowok romantis yang berlebihan, tapi cara dia memperlakukan orang lain terasa unik. Dia punya gaya sendiri dalam berbicara maupun bersikap. Kadang cuek, kadang perhatian diam-diam.

Di versi mahasiswa ini, Dilan terlihat lebih dewasa. Kita bisa melihat bagaimana dia menghadapi kehidupan kampus, hubungan sosial, dan berbagai pemikiran tentang masa depan.

Namun yang menarik, sisi santai dan humor khasnya masih tetap ada. Jadi pembaca tidak merasa karakter Dilan berubah total. Justru terasa seperti ikut tumbuh bersama dirinya.

Nuansa Bandung dan Dunia Kampus yang Terasa Hangat

Hal lain yang bikin buku ini menarik adalah suasana kota Bandung yang terasa sangat hidup.

Buat yang pernah kuliah atau tinggal di Bandung, mungkin akan merasa nostalgia saat membaca cerita ini. Ada suasana anak muda tahun 90-an yang sederhana tapi hangat. 

Nongkrong, ngobrol soal mimpi, sampai kehidupan mahasiswa yang penuh cerita.

Nuansa kampus ITB juga terasa cukup kuat. Pembaca diajak membayangkan kehidupan mahasiswa dengan berbagai aktivitas dan pemikiran khas anak muda pada zamannya.

Walaupun setting-nya tahun 1997, banyak bagian yang masih relate dengan kehidupan sekarang. Tentang pencarian jati diri, persahabatan, dan bagaimana seseorang bertumbuh menjadi lebih dewasa.

Bahasa yang Simple dan Mudah Dinikmati

Menurutku, salah satu kekuatan terbesar dari buku ini adalah gaya bahasanya.

Pidi Baiq menulis dengan cara yang sangat santai. Tidak banyak kata-kata sulit atau penjelasan yang terlalu panjang. Justru kesederhanaannya membuat cerita terasa natural.

Kadang ada dialog singkat yang malah terasa sangat dalam. Beberapa kutipan juga cukup memorable dan sering dijadikan caption media sosial 😄

Buku ini cocok banget buat dibaca santai sambil minum kopi atau sebelum tidur. Tidak terasa berat, tapi tetap meninggalkan kesan setelah selesai membaca.

Banyak Pesan Tentang Kehidupan

Walaupun identik dengan cerita cinta remaja, sebenarnya buku ini juga menyimpan banyak pesan kehidupan.

“Tentang bagaimana seseorang bertumbuh.
Tentang kehilangan.
Tentang menerima perubahan.
Dan tentang perjalanan menuju dewasa yang ternyata tidak selalu mudah.”

Ada bagian-bagian yang membuat pembaca sadar kalau hidup memang terus berjalan. 

Orang bisa berubah, situasi berubah, dan kita harus belajar menerima semuanya. Pesan-pesan seperti ini yang membuat buku Dilan tidak hanya sekadar novel romantis biasa.

Kalau boleh jujur, mungkin buat sebagian orang alurnya terasa terlalu santai dan tidak banyak konflik besar. Jadi pembaca yang suka cerita penuh drama mungkin merasa ceritanya lebih slow.

Namun justru di situlah daya tariknya. Buku ini terasa seperti teman ngobrol, bukan cerita yang terburu-buru.
Secara keseluruhan, buku Dilan ITB 1997 adalah bacaan yang simple, hangat, dan menyenangkan. Tidak hanya tentang cinta, tapi juga tentang perjalanan hidup dan proses bertumbuh menjadi dewasa.

Pidi Baiq berhasil membuat karakter Dilan tetap hidup dan dekat dengan pembaca, bahkan ketika latar kehidupannya sudah berubah menjadi dunia kampus.

Buku ini cocok dibaca untuk menemani waktu santai, apalagi kalau sedang ingin bacaan ringan yang bisa bikin senyum sendiri sekaligus sedikit nostalgia 🤍

Kalau kalian sudah baca buku ini juga, coba share dong bagian favorit kalian yang paling berkesan 😄


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SGM Eksplor Luncurkan Gerakan #AyoTunjukTangan untuk Indonesia Maju

Ramsyah Al Akhab: Menyalakan Cahaya Literasi dari Bangka Belitung

Temen Kondangan, Move On Di Kondangan ?